NKayaknya diri memilih menghabiskan ketidakbisaan tidur ini dengan ngeblog saja. Tugas gimana kabarnya? heemmm..mari sejenak menjadi anak nakal yang bertanggung jawab. Saya ingin hasilkan sesuatu. Saya ingin orang - orang mau melihat seperti apa dari cara saya sendiri.
Selesai baca sesuatu yang menarik, sangat menarik. Renungan yang mungkin terkadang tidak disadari atau lebih menonjol negatifnya saja.
RAY CHARLES
Seorang anak kecil buta terjatuh. Ia menangis meraung-raung,
memanggil sang ibu. Biasanya seorang ibu tentu akan bergegas
menghampiri anaknya, tetapi ibu si anak justru berdiam diri. Dari
sudut ruangan, ia menyaksikan anaknya menangis dalam frustrasi.
Namun anak itu perlahan bangkit, mengibaskan debu dari bajunya, lalu
meraba jalannya sendiri menuju sang ibu. Dengan penuh air mata, sang
ibu memeluk erat anaknya. Itulah sepenggal cerita masa kecil Ray
Charles, legenda musik soul Amerika. Apa komentar Anda mengenai si
ibu? Kejam? Tidak punya hati? Di adegan berikutnya, sang ibu
menjelaskan tindakannya kepada Ray kecil: "Aku ingin kamu tahu …
kamu itu buta, tetapi tidak bodoh."
Di Alkitab, banyak contoh buruk orangtua yang gagal mendidik
anaknya, termasuk para tokoh besar seperti Imam Eli. Tuhan bahkan
menegaskan sikap Eli yang tidak memarahi anaknya sebagai dosa
menghujat Allah (1 Samuel 3:13). Serupa dengan seniornya, di hari
tuan-ya pun Samuel harus mengelus dada karena anak-anaknya tidak
layak menjadi hakim Israel (8:3). Sikap buruk mereka mengakhiri masa
hakim-hakim di Israel dan awal berkuasanya para raja.
Bersikap "keras" kepada anak-anak atau generasi muda yang
dipercayakan kepada kita, bukanlah hal yang tabu; sebab sikap
demikian perlu untuk mendidik, asal melakukannya dengan tujuan dan
cara yang benar. Sikap memanjakan generasi muda atau membiarkan
mereka berbuat apa saja tanpa nasihat, justru menjadi pertanda tidak
adanya tanggung jawab. Sebagai masa depan dunia, generasi muda
membutuhkan didikan karakter dari otoritas di sekelilingnya --OLV
e-RH
Coba perhatikan dengan seksama kesimpulan pada paragraf terakhirnya. Jelas sekali ini yang mungkin diri alami juga hingga sekarang. Keras selalu diidentikan dengan kekerasan fisik, padahal ada sesuatu positif dibalik semuanya. Keras ada caranya. Keras juga punya tujuannya, seperti ada tertulis bahwa bukan berlari tanpa tujuan. Demikian juga ini!
Masa depan dunia ada sekarang dan terus berlangsung sekarang. Ingin sekali membahas sesuatu mengenai ini. Tapi rasanya lebih baik dilakukan research dulu dan mungkin bisa jadi lebih baik nantinya tulisan ini. Hanya saja, renungan ini yang sangat penting untuk dibagikan terutama bagi mereka yang sekarang dalam posisi kaderisasi. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama seperti saya. :D
Saya akan berdiskusi dulu seperti apa keras pada masa sekarang yang patut diperjuangkan. Hal ini penting daripada menyesatkan nantinya.
Diri juga perlu memilah dan tahu menempatkan situasi.
No comments:
Post a Comment