Jika bicara tentang ketakutan, maka banyak hal yang datang dan menjadi jawaban. Ketakutan akan banyak hal yang ada di sekitar diri. Bukan sekadar yang pantas ditakutkan, mungkin seperti kematian. Namun, lebih dari itu. Segala kondisi bisa saja menciptakan ketakutan. Menyelipkan keberadaan sesuatu yang mungkin diri tidak akan menyangka akan menghadapinya.
Dalam hubungan dengan orang terdekat, ada yang namanya ketakutan akan perpisahan. Namun, maukah hidup tanpa pertemuan? Rasanya, akan menjadi tidak logis jika dijalani. Semua tidak ada yang kekal.
Kehidupan adalah sesuatu yang tidak pernah kekal. Apa yang dimiliki hari ini, bisa saja hilang esok hari. Udara yang dihirup siang ini, bisa saja tidak akan ternikmati lagi esok pagi. Semua akan sama jika dipandang dengan cara demikian. Tidak akan ada yang bisa memastikan bahwa segala yang kita rasakan sekarang akan tetap menjadi milik dan bagian dari kita.
Adalah ego bagi manusia ketika mereka menginginkan semua yang ada sekarang selalu sempurna tanpa kurang satu apapun. Dalam perjalanannya, semua itu adalah tidak mungkin. Semua yang dikerjakan, dimiliki, dirasakan, dan lainnya adalah sementara. Mereka sedang bertumbuh. Akan tetapi, tidak ada yang dapat menjamin bahwa ia akan tetap tumbuh menjadi pohon besar atau harus mati menjadi rumput kering esok hari. Rasa takut muncul sebagai pelengkap keberadaan ego tinggi ini.
Manusiawi, takut adalah wajar. Akan tetapi, ada batasannya kadar takut yang dimiliki. Semua akan kembali kepada cara memandang suatu kondisi yang ditawarkan bagi diri. Ya, semua orang bisa memilih bagaimana dia bersikap terhadap ketakutan yang ditawarkan bagi pribadi masing-masing. Misal, ketika melihat ular. Apa yang seharusnya ditakutkan dari seekor ular? Diri rasa tidak ada yang salah dengan sang ular jika tidak diberikan gangguan. Namun, tidak menjadi demikian bagi orang - orang tertentu. Keberadaan ular bisa saja membuat seseorang ketakutan luar biasa. Termakan ketidakmampuan dia menghadapi dirinya yang sangat reaktif terhadap keberadaan ular tadi.
Sama halnya masalah hati. Diri yakin tidak semua orang mampu menghadapi persoalan ini. Bagi orang tertentu, masalah hati adalah menakutkan. Diri juga merupakan salah satunya. Sempat cukup lama, diri merasakan takut untuk membuka hati bagi lelaki. Diri mengalami ketakutan untuk merasakan sakit. Ketakutan yang sangat besar terhadap rasa sakit akan kehilangan. Akibatnya, diri tidak pernah mencoba untuk menyelesaikan pembelajaran saat diri membuka hati. Rasa sakit yang muncul pertama kali sebagai ujian pertama, membuat diri selalu berlari dan berusaha menyembuhkan hati yang baru saja diuji. Demikian seterusnya, dan sampai akhirnya ini menjadi kebiasaan. Bukan sebatas hal yang sifatnya manusiawi lagi.
Pada akhirnya, ketika diri mencoba kembali, diri hampir selalu tidak survive. Selalu demikian, pikiran diri hanyalah berlari dan diri selalu bersifat resist (melawan) terhadap kondisi yang ada. Diri selalu merasa tidak kuat dengan sakit ataupun perubahan - perubahan yang baru. Adalah hal sulit untuk percaya dan memiliki kepercayaan bagi diri. Akibatnya, lelaki pun akan merasakan ketakutan ini.
Lelakiku tangguh. Dia yang selalu menemani diri untuk yakin pada diri dan menyembuhkan ketakutan ini.
Menurut diri, pendampingan adalah hal yang luar biasa yang bisa dimiliki mereka yang memiliki ketakutan terhadap sesuatu. Mereka yang phobia ketinggian, misalnya. Memiliki keberanian pertama kali untuk berada di tempat atau kondisi yang ditakutan lebih dahulu. Kedua, berjalanlah di sana dan rasakan ketakutan itu. Jika diri bukan orang yang kuat, mintalah dampingan mereka yang terdekat bagi diri sendiri. Bukan berlari dari segala ketakutan ini. Jangan membiarkan pikiran ini menjadi lawan terbesar terus menerus dalam menyembuhkan ketakutan kita.


No comments:
Post a Comment