Friday, September 18, 2009

ALONE, Lombok (part I)

Ok teman, akhirnya saya niatkan untuk mengetik jurnal perjalanan yang tersimpan di tas berhari-hari ke blog dan semoga dapat digunakan sebaiknya oleh sapa pun termasuk saya. Dengan teriring lagu Jason Myraz entitled I'm Yours, kisah ini kembali saya tuangkan dengan cara saya yang cukup tidak teratur, tetapi tetap berharap pasti bisa jadi penulis.

Travel Journey, diz part which called as ALONE.


Perjalanan ini direncanakan sekitar 3 bulan lalu. Awalnya sebatas omongan belaka, tetapi saya tidak ingin semua menjadi hanya sebatas angin surga di mulut saja atau bahas halusnya ya angan-angan. Semua saya sudah persiapkan, ntah fisik, mental hingga duit dan chanel-chanel yang mungkin dapat membantu saya di sana ntar. Mendekati hari H, perjalanan ini tampak seperti akan berkahir sebagai wacana belaka karena hampir semua peserta punya kepentingan masing-masing dan merasa berkeberatan dengan perkiraan yang dibuat. akhirnya pun dapat ditebak, perjalanan ini saya lakukan seorang diri dan tanpa pengawasan orang yang jauh lebih tua dari saya. Orang tua tahunya saya berangkat bersama mereka-mereka yang telah membatalkan janji tersebut. dari hal ini juga saya sadar, menggantungkan diri pada manusia itu percuma.

akhirnya, dengan doa dan kekuatan dan kenekatan di luar nalar seorang ibu pun saya berangkat ke tempat yang saya tuju. Ya, karena ini tanpa restu resmi orang tua (karena telah berubah haluan), saya berangkat dan hasilnya tidak terlalu maksimal. Itu tak apa, yang penting ada sesuatu yang masih bisa saya dapatkan dan saya terpancing untuk ke sana lagi tahun depan untuk menyelesaikan petualangan di sana (semua gili dan Rinjani).

27 Juli 2009

Setelah doa dan menunggu ktp disiapkan bapak kos, akhirnya saya berangkat ke Lombok. Destinasi yang saya ambil adalah via Jogja. dengan persiapan yang telah saya lakukan, akhirnya saya berangkat ke Jogja dengan kereta Kahuripan pukul 20.25. Apa yang saya rasakan, standar! sama seperti mereka yang berangkat sendirian. dengan kerir 60L di belakang dan daypack di depan dan setelan lapangan, saya berangkat dengan harap-harap cemas. Beruntung, muka saya membantu dalam perjalanan. Perjalanan malam hari adalah waktunya tidur dan saya berharap penuh untuk tiba tepat waktu agar bisa langsung melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi tanpa harus menginap lagi di Jogja. Keriuhan kereta ekonomi akhirnya tidak menghalangi aku tertidur hingga esok pagi ku lanjutkan perjalanan.

28 Juli 2009

Akhirnya kereta sampai di stasiun Lempuyangan dengan waktu yang tepat untuk keberangkatan lanjutan yang akan saya lakukan. Meskipun ngaret sekitar 1jam, seengganya saya sampai lebih awal dari pembukaan loket tiket untuk perjalanan ke Banyuwangi. Sekitar pukul setengah 7, loket tiket kereta Sri Tanjung dibuka, dengan mebayar Rp. 35.000,- tiket ke Banyuwangi telah di tangan. Bersama saya pun ada sepasang bule ,ntah kewarganegaraan mana, yang melakukan perjalanan yang sama dengan saya. Segerombolan warga ponpes dengan style mereka yang khas pun melakukan perjalanan ke arah yang sama dengan saya. dalam pikiran saya, betapa menyenagkannya bisa bersama teman-teman melakukan perjalanan ini, tetapi rasa sebal dan kecewa saya lebih besar sehingga saya tetap untuk melanjutkan perjalanan dengan segala rasa lelah dan bosan yang menimpa hidup saya. Tiket sudah di tangan, dan perjalanan 15 jam ke depan pun harus dihadapi. Sekitar setengah 8, kereta siap dan saya pun berangkat. setelah memilihi kursi yang pw dan aman untuk barang-barang, saya pun mengambil posisi tidur. Ya, kebiasaan yang saya pelihara selama perjalanan. Demi keamanana pun akhirnya saya tidur dengan menyimpan seluruh barang dalam jaket dan tas di bawah kaki saya agar saya merasakan bila ada yang tidak beres.

Perjalanan 15 jam ekonomi itu memang melelahkan dan jujur cukup membahayakan apalagi untuk perjalanan sendirian untuk wanita. Tuhan itu emang baik, selama perjalanan yang duduk di sebelah saya itu selaliu mereka yang bener-bener ngejagain saya. Ya, seengganya, itu yang syaa rasakan. Pertama kali ada bapak-bapak yang terlihat menyeramkan, tetapi memang dia mengamankan sekali, tiap saya tinggal tidur, orang akan segan duduk di sebelah saya akhirnya.
Ntah di stasiun mana, sekeluarga naik dan duduk di sebelah saya. Keluarga ini mau turun di Pasuruan aja pokoknya, mereka pun menjaga saya. Ketika saya tidur, sdemua aman saja pokoknya. Anaknya pun lucu dan cukup menghibur kebosanan saya. Satu hal yang saya sayangkan, saya ngga bisa bahasa jawa. alhasil jadi sulit untuk berkomunikasi dan ngobrol-ngobrol ama mereka. isi kereta semakin padat dan panas semakin menyengat. perjalanan terus berlanjut hingga kereta pun mulai sepi ditinggal para penumpangnya karena sudah banyak yang turun di stasiun-stasiun yang familiar. Tujuan Banyuwangi pun adalah tujuan akhir kereta.

29 Juli 2009

Ok, saya pun telah tiba dengan selamat di Banyuwangi. dalam perjalanan ini, saya bertemu dengan Pak Gunawan yang menjadi kawan saya hingga perjalanan ke Padang Bai. Bapak ini tinggal di Bali dan sangat menolong saya saat melanjutkan perjalanan ke Lombok. Dengan membeli tiket kapal feri Rp.6000,-, kami menyeberang selama kurang lebih 45 menit. Sesampainya di Gilimanuk, KTP yang telah saya siapkan pun diperiksa. Kondisi pelabuhan yang sepi dan rasa was-was yang masih menghantui saya, tidak mengerutkan semangat untuk tetap melanjutkan perjalanan ini. Mini bus pun beberapa berjejer di terminal Gilimanuk. Jurusan ke Padang Bai pun akhirnya ditawar. karena dirasa terlalu mahal, saya memutuskan untuk menunggu hingga pagi sebgai saran si bapak tadi. Menunggu di terminal juga hal yang bodoh dan menakutkan bagi saya. Tak lama menunggu di terminal, dua orang tentara yang sedang berpartroli menghampiri saya. Salah seorangnya malah membuat panik teman saya di Lombok. Maksud baiknya ternyata membuat hal yang lucu dan panik orang lain. Selain itu juga muncul seorang muda Batak yang abis saja kecopetan dan menghampiri. Jujur, dia jauh lebih tidak dapat dipercaya dibandingkan Pak Gunawan. Tapi saya tahu maksudnya baik agar saya tidak terbuai oleh kebaikan orang lain. Terima kasih lai.

Jam4 pagi menyongsong, tentara satu lagi pun mengingatkan saya untuk bergegas karena bus ke Padang Bai sudah hampir tidak ada. Dengan penawaran yang ia lakukan, akhirnya saya berangkat dengan ongkos Rp.30000,- ke Padang Bai. Dengan baik hati, pak Gunawan pun ikud mengiringi saya meskipun ia harus menunggu lama di dekat terminal lanjutan sebelum ke rumahnya. Terima kasih Pak gunawan, "God bless" katanya saat mengucap perpisahan dengan saya. Alhasil, jalanan gelap bali dan rasa capai yang sangat membuat saya kembali tertidur sepanjang perjalanan. inilah salah satu kelemahan berjalan sendiri tanpa teman. jangan lakukan hal yang sama jika tidak karena kecewa.
Pagi menyingsing, jalanan bali pun mulai ramai dan kota ini memang memiliki daya tarik luar biasa dan saya ingin mendatanginya secara spesial. semua nampak berbeda ketika mobil semakin penuh dengan penumpang-penumpang yang memiliki tujuan sama maupun pertengahan jalan ke Padang Bai.Sekitar 6jam, akhirnya saya sampai di pelabuhan paling ujung di Bali. Dengan pesan dari si kondektur mobil, saya langsung bersiap dan pasang muka garang seakan-akan tahu daerah tersebut. Dengan Rp.31.000,- saya bersiap menunggu kapal penyebrangan bersama dengan para bule yang sedang berlibur. Dengan gaya mereka yang khas dan mengagumkan buat saya, mereka menunggu bersama saya dengan barang-barang bawaan mereka. Ingin rasanya bergaya santai seperti mereka, tetap terkadang ngga bisa. ya, saya emang dasarnya ngga ngerti fashion jadi sensenya sering ga dapat. sedang dalam perubahan. doakan teman-teman. heheheh (curcol mode on).

Sekitar jam 10, saya menyeberang dengan menggnakan feri. saat menunggu untuk menyeberang inilah saya bertemu dengan Komang yang jadi kakak sekaligus teman baru saya. senang sekali rasanya, di Lombok ada teman baru dan baik banget pula. Saya dengan tanpa malu mendekati dia dan bertanya tentang penyebrangan ini. itulah yang mendekatkan kami akhirnya. dengan segera mendekat pada bagian pintu masuk, kkami bergegas agar dapat menikmati kapal yag baru bersandar ini. terlambat akan membuat saya harus menunggu kapal berikutnya da itu artinya waktu lagi. selama 4 jam penyebrangan, semua terasa lama. ombak yang tinggi dan kapal yang goyang benar-benar menunjukkan ketidakbersahabatan laut dengan saya. huuu..di perjalanan juga ada rombongan pns yang studi banding, tapi saya rasa lebih tepat wisata. ahhh, negara ini.

Setelah hampir stress di dalam kapal, akhirnya sampai dan bersiap untuk petualangan baru. apapun itu di depan mata.
Turun dari kapal, menunggu di Lembar, ahh akhirnya berada di Lombok. Petualangan baru Tuhan atas egosime. Lihat di depan mata jika semua sudah begini.

No comments:

Post a Comment