dalam hasratnya seorang manusia bukan bagian yang terdalam
apa yang seringakli terpikirkan hanya sebatas laut dangkal mimpi manusia
mengerti dan memahami, seolah bagian yang tak akan terpisahakan hingga akhir massa
saat yang terpenting dalam pembangunan tembok perlindungan diri
manusia belajar memahami
dan sekali lagi belajar untuk memahami
berharap untuk dimengerti tapi sulit untuk mau mengerti
hanya paham tanpa aplikasi nyata
sebagai sebuah tembok perlindungan dari salah tindakan yang mungkin terjadi
apa yang yang menjadi permalasahan
terlalu praktis dalam bertindak
hanya itu menjadi pemikiran utama
ada isu lain yang sering terjadi dalam pemikiran
mungkin saja toleransi
manusia hidup karena pemikirannya
dan ia ada karena tindakannya
praktis, ia akan memahami diri dan manusia lain sebagai sebuah kebutuhan
timbal balik alam semesta yang tak akan tergantikan
pusat gravitasi adalah manusia
bumi adalah lingkaran pembatas
dan langit adalah kotaknya
alam semesta adalah sebuah dus pengertian dalam segala hl
praktis hingga rumit dalam tindakan yang sering diterjemahkan pada kesalahan tak berujung
adakah di anatara manusi belajar memahami
sekalipun diri tersiksa sepi seperti hal lain yang lebih sakit
setiap pengertian bahwa bumi adalah satu
di tengah ketidakseriusan manusia sendiri
yang terkadang membuat bumi dan semesta itu sepi dari kata toleransi.
No comments:
Post a Comment